Karena Kau Tercinta, makanya
Aku rela lima tahun berlari mengejar mimpi
di awal hari, hampir setiapnya mengejar stokar berteriak
"Khatib! Khatib atau Buaya! Buaya!"
Bergabung, dengan mahasiswa (di) kelas sapi pada jurusan yang
tercecer (dari) Fakultasnya
Tepat di seberang kandang serdadu, sangat dekat dengan
hedonnya Minang Plaza
Kami terbius candu yg di hembuskan Phalas Athena berabad
lalu di Yunani
Dengan tekad transformasi agar tuah dan kiramat pengetahuan
merubah kutukan takdir nasib
Kami tak pernah takut tsunami, meski ombak menghepas sekeras
doa ibu di kampung,
yg tak pernah menyandang kata Sarjana, namun rela
menggadaikan nasib
agar kami mencicip harumnya baju hitam itu...
Karena kau tercinta, nelayan pantai labor (seramah
umang-umang di tempayan ampas kelapa),
rela berbagi tangkapan; ikan, cumi dan udang bercampur dg
ubur - ubur
Selepas Subuh menyudahi rakaatnya, kresek hitam di kiri dan
lima ribuan di kanan harga barter lauk seminggu untuk kami mahasiswa kekurangan
amunisi...
Karena kau tercinta, kami menahankan luka cinta ditinggal
kekasih
dan dikhianati kesetiaan
Kami tahankan panasnya telapak kaki di atas sendal yg sekali
lg dijahit
menunggu tunai janji lebaran dari Bapak
Itu dulu, wahai tercinta...
Lebaran 1432 H, tak terbendung rinduku menemuimu,
mengajak
dua anak panah zaman yg takdir berbusur padaku,
riangnya mereka bergelut di pasir Muaro,
seakan mencari-cari
puisi cinta yg mungkin lupa disampaikan angin tentang janji ku tunai sudah,
Karena kau tercinta, makanya kau kutinggalkan
Untuk kukenang dan kurindui
di ranah manapun sauhku
bertambat.
(Muara Enim, 25 September 2011: kupersembahkan buat
sahabat2ku TL'98 FTUA di Pinang sori
III/9 Air Tawa)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar